Senin, 25 September 2017

REFLEKSI TAHUNAN

ANTARA HARI TANI, HARU PETANI, DAN HATI MAHASISWA
“Fantasi dan Realitas di Negeri Agraris”
Oleh : Willy Bambang Sadewo (Teknik Mesin dan Biosistem IPB)

            “Sekarang, petani adalah pahlawan tanpa tanda jasa”, kalimat yang mungkin terucap oleh kalangan yang memahami problematika pertanian di negeri agraris ini. Setiap 24 September diperingati sebagai Hari Tani Nasional, hari yang mungkin tidak setenar hari-hari besar lainnya. Hari Tani Nasional ditetapkan berdasarkan hari penetapan Undang-Undang No.5 tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (UUPA) oleh Ir. Soekarno. Ditetapkan kelahiran UUPA sebagai hari tani dengan pemikiran bahwa tanpa peletakan dasar keadilan bagi petani untuk menguasai sumber agraria, seperti tanah, air, dan kekayaan alam, mustahil ada kedaulatan petani (Pramono 2010).
Penggerak Kampus Pertanian

            Momentum Hari Tani Nasional bukan sekedar refleksi tahunan, namun lebih dari itu ada tanggungjawab dan peran untuk menghilangkan kalimat “petani miris di negeri agraris”. Presiden pertama RI, Ir. Soekarno juga sangat menyadari akan pentingnya pertanian bagi Bangsa ini. Sehingga beliau pun mengatakan bahwa pertanian adalah soal hidup matinya suatu bangsa. Pemikiran beliau memang sangat realistis mengingat pangan sebagai salah satu kebutuhan pokok. Sehingga,  Ir. Soekarno pula yang meletakkan batu pertama pembangunan kampus Institut Pertanian Bogor (IPB) pada 1 September 1963. Hal tersebut juga menandai peresmian IPB sebagai perguruan tinggi mandiri. Jika saat ini Soekarno masih ada, mungkin beliau akan merasa bangga sekaligus miris melihat kondisi pertanian Indonesia.
            Terdapat amanat reforma agraria pada UUPA yang ditetapkan oleh Soekarno dan tidak dicabut selama lebih kurang 57 tahun. Kelahiran UUPA sebagai semangat melawan “penindasan manusia atas manusia”. Namun, saat ini haru petani nampaknya sangat dirasakan karena semangat itu terhempas oleh kepentingan penguasa dan pemilik modal. Haru petani tidak hanya didasari oleh Nilai Tukar Petani (NTP) saja, masih banyak indikator lain yang lebih praktis di lapangan. Untuk itu, sebagai pemain di lapangan sektor pertanian, sudah seharusnya kebijakan sinergis dan visi seperjuangan antara Pemerintah sebagai pemegang kebijakan, swasta sebagai pemilik modal, akademisi dan lembaga penelitian sebagai inovator, dan petani sebagai garda terdepan untuk mencapai kedaulatan pangan yang hakiki. Lalu, bagaimana dengan peran pemuda dan mahasiswa dalam menyikapi kebijakan nasional, khususnya dalam bidang pertanian?
            Sebagai mahasiswa pertanian (katanya), yang mungkin lebih banyak menghabiskan waktunya di kelas dan belum tahu akar permasalahan di hulu. Saya sangat yakin, dari hati seluruh mahasiswa pertanian menginginkan petani sejahtera dan pertanian Indonesia adidaya. Namun permasalahannya adalah ruang dan mobilitas yang masih terbatas menyebabkan sebagian besar mahasiswa merasa kebingungan. Oleh karena itu, setiap kalangan memiliki perannya masing-masing. Sebagai renungan pribadi pula untuk penulis, saat ini mungkin banyak mahasiswa yang berfikir bagaimana lulus dan cepat bekerja setelah lulus tersebut? Namun, masih sedikit yang berorientasi pada kebermanfaatan orang lain, khususnya petani. Mahasiswa dengan inovasi teknologi sudah banyak didukung, misalnya melalui PKM dan ajang inovasi lainnya, namun masalahnya adalah orientasi mahasiswa dalam mengikuti ajang tersebut. Apakah hanya sekedar gengsi, keingingan, atau kebermanfaatan yang berkelanjutan. Tentunya inovasi mahasiswa yang berkelanjutan perlu didukung oleh pemerintah dan swasta.
Mahasiswa ingin bergerak, pergerakan yang paham kondisi di hulu sampai hilir dan sangat ingin menebar kebermanfaatan lewat inovasi. Namun, kebebasan kami seakan terkekang oleh birokrasi akademis dan tuntutan lainnya. Kampus pertanian memang saat ini bukan hanya membahas masalah pertanian di sektor hulu, permasalahan sampai hilir pun dipelajari. Intinya adalah kembali pada pemangku kebijakan, dalam lingkup nasional maupun kampus, kebijakan yang mendukung dan memihak para penggerak, sudah tentu reformasi agraria lebih berpeluang tercapai. Sehingga, negeri agraris ini bukan sekedar sebutan, tapi fakta yang mengatakan bahwa pertanian presisi dan terintegrasi bukan hal mustahil lagi untuk mencapai kedaulatan pangan.

Hidup Mahasiswa!!! Petani Sejahtera!!! Pertanian Indonesia Berdaulat!!!

#HariTaniNasional
#CurahanHatiMahasiswa

#KobarkanKebaikan   

Jumat, 22 September 2017

Inspirasi dari Pedalaman



“Mengajar dan Belajar sambil Bermain”
Traveling and Teaching ‘Sibugo’ #8

            Siapa yang tak mau jalan-jalan sambil berbagi, mengajar, dan menginspirasi anak-anak negeri? Saya yakin dalam hati setiap orang pasti ada keinginan untuk membuat orang lain bahagia. Untuk itu, komunitas sosial bernama “1000 guru” yang telah menginspirasi anak-anak negeri berusaha memfasilitasi keinginan mulia tersebut. Selama lima tahun berdiri, banyak sekolah yang telah memperoleh bantuan dari komunitas “1000 guru”. Salah satunya adalah MI Nurussibyan yang berlokasi di pedalaman Kp.Mulyasari Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor.
            Sibugo sebagai komunitas seribu guru Bogor mengajak para penggiat pendidikan untuk berkontribusi dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan di pedalaman Bogor. Dengan berbagai latar belakang profesi, keluarga, dan daerah, 30 volunteer terpilih bersama tim sibugo melakukan perjalanan ke Kp Mulyasari untuk menebar inspirasi. Inspirasi dan motivasi kepada adik-adik untuk tetap semangat dalam meraih impian. Impian yang bukan sekedar harapan dan kata kata tanpa aksi nyata. Sehingga dengan visi dan tujuan yang sama, 30 volunteer berusaha untuk memberikan pengabdian terbaiknya.
            Jumat, 15 September 2017, merupakan hari pertama seluruh volunteer dan tim sibugo berkumpul. Persiapan dan pengecekan barang dilakukan di meeting point, MAN 2 Bogor. Lokasi berkumpul cukup strategis, yakni berada di samping Masjid Raya Bogor dan dekat pintu tol Jagorawi. Kegiatan saling menunggu pun maksimal hingga pukul 21.00 WIB. Saya yang hari itu berangkat dari Dramaga pukul 20.00, memutuskan untuk menggunakan jasa ojek online alias Grab. Sekitar 45 menit perjalanan, akhirnya saya sampai di meeting point. Terlihat sudah banyak orang berkumpul, saya kira pun terlambat datang di sana. Alhamdulillah, ternyata masih dalam tahap persiapan berangkat. Namun, ada satu orang yang masih dalam perjalanan hingga membuat kami menunggu hingga pukul 21.30. Usut diusut, sebut saja AAR, sang Tersangka yang membuat kami menunggu.  
            Rombongan pun berangkat pukul 21.30 menggunakan truk brimob. Truk yang jauh dari kata nyaman itu tak menyurutkan kami untuk saling berkenalan satu sama lain. Dengan berbagai latar belakang daerah, usia, dan profesi, tak membuat kami merasa sungkan. Sekitar dua jam perjalanan, akhirnya kami sampai di jalan kecamatan. Di sana kami berpindah haluan ke mobil bak terbuka. Nuansa berbeda sangat terasa kala dihembus angin malam bersama kawan seperjuangan.
            Sekitar pukul 01.00, kami tiba di jalur tracking. Pengecekan ulang pun dilakukan sebelum perjalanan sesungguhnya dimulai. Tak lupa kami berdoa agar diberikan keselamatan. Kesunyian malam dan berbekal senter, tim pun melakukan tracking menyusuri jalan setapak dan bebatuan. Tim pria saling membantu untuk melindungi wanita (nya). Saya pun tak ketinggalan untuk membantu barang bawaan wanita. Sebut saja Bundo, wanita paling dewasa dalam perjalanan ini karena faktor usia dan sudah berbadan dua. *eh. Tim cowok dibagi ke dalam 3 bagian, yakni depan, tengah, dan belakang. Saya sebagai tim belakang mengawasi para wanita di depan. Bersama AAR, perjalanan malam pun diisi dengan obrolan santai.
            Akhirnya sekitar pukul 3.30, seluruh tim tiba di Kp.Mulyasari. Rasa lelah dan kantuk sangat terasa saat itu, hingga tak tahu siapa yang mengawali dan mengakhiri, seluruh tim tertidur. Adzan subuh pun berkumandang membangunkan kami dengan lantunan yang sangat merdu. Ba’da Subuh, kami bersiap untuk senam pagi dan sarapan. Keceriaan pun mulai terpancar di wajah kami kala bertemu dengan adik-adik di pagi hari. Sabtu pagi pukul 7.00, kegiatan belajar sambil bermain bersama adik adik pun dimulai. Mulai dari mengenal huruf, angka, hingga profesi. Saya bersama tim yaitu, Ka Adel (Mahasiswa Manajemen), Ka Mila (Mojang Bogor), dan Ka Tasya (Pramugari) berusaha menghibur adik-adik. Fokus kami yaitu mengajarkan bahasa Inggris kepada siswa kelas dua.
            Pada pukul 10.00, kegiatan pun beralih ke outdoor. Permainan tradisional yang lebih mengembangkan kemampuan psikomotorik pun kami lakukan. Berlari, bernyanyi, dan tertawa adalah yang kami lakukan di luar kelas hingga pukul 12.00.  Jeda Ishoma hingga pukul 3.00 kami manfaatkan untuk tidur siang melepas lelah. Adzan Ashar membangunkan kami untuk bersiap kembali bertemu adik-adik. Setelah shalat Ashar berjama’ah, acara pun dilanjutkan dengan dongeng dari kaka setiap kelompok. Tanpa diduga, persiapan kelompok belum ada, hingga akhirnya saya diputuskan untuk jadi relawan dongeng. Alhamdulillah berbekal pengalaman bercerita, adik-adik sangat terhibut lewat cerita kisah Nabi Sulaiman yang saya bawakan. Adik-adik sangat antusias dan bersemangat dalam merespon cerita. 
            Kegiatan bersama adik-adik hari itu pun ditutup dengan pemberian plakat dan donasi berupa seragam sekolah, sepatu, dan tas secara simbolis. Adik-adik terlihat sangat senang dan kaka-kaka pun ikut terharu melihat kondisi tersebut. Mereka yang awalnya bersekolah tanpa seragam dan sepatu tampak bahagia. Bahkan, ada seorang anak yang baru pertama kali menggunakan sepatu hingga harus dibantu dalam mengikat tali sepatunya. Di sela proses pemberian donasi tersebut, kami para volunteer mulai berusaha lebih dekat dengan adik-adik dengan berbicara empat mata.
            Hal yang paling membuat kami terharu adalah mayoritas dari mereka tidak tahu harus kemana setelah lulus sekolah dasar. Impian mereka hanya ingin menjadi Ustadz dan Ustadzah. Mayoritas anak-anak seusia mereka memiliki impian sebagai dokter, polisi, tentara, pilot dan profesi lainnya. Keinginan mereka hanyalah bisa bermanfaat dan mengajarkan agama kepada orang lain kelak.
            Seusai pemberian donasi tersebut, acara dilanjutkan dengan permainan outdoor di lapangan. Permainan-permainan tradisional yang membuat kami bernostalgia dan rindu akan masa kecil. Di sini, gadget sama sekali kurang berguna dan tak berfaedah karena sinyal yang tak ada. Bagi kami, permainan dan pemandangan alam yang menyejukkan hati sudah cukup membuat hati ini terhibur. Kegiatan malam pun dilanjut dengan sesi perkenalan dan tukar kado antar volunteer. Keesokan harinya, kegiatan outbond di curug pakuan menantang alam. Menyusuri lembah, sungai, dan bebatuan yang sangat beresiko. Namun, dengan semangat kebersamaan, akhirnya kami merasakan sensasi di Curug Pakuan sekedar untuk berfoto bersama dan melepas penat.
            Akhirnya pada Minggu 17 September pukul 14.00, seluruh tim sibugo dan para volunteer pamit kepada warga sekitar dan adik-adik. Antara bahagia, sedih, dan terharu kami rasakan. Bahagia karena bisa berbagi kebahagiaan bersama adik-adik. Sedih karena pertemuan yang sangat singkat dan berkesan. Dan terharu karena perjuangan adik-adik dalam meraih impian mereka.
            Bersama, bersinergi, menebar inspirasi.
#LakukanYangTerbaik
#BerkahMelimpah
#KobarkanKebaikan
           

Kamis, 15 September 2016

Baituzzakah Pertamina

PERAN PEMUDA SEBAGAI CALON PEMIMPIN MASA DEPAN

BANGSA INDONESIA

            Sehari-hari saya sudah terbiasa dengan suasana rumah yang agak bising karena berada di samping jalan raya Kuningan-Cirebon. Saya besar dan terlahir di kabupaten kecil ujung timur Jawa Barat, Kabupaten Kuningan pada tanggal 5 Juli 1997. Bernama lengkap Willy Bambang Sadewo (Iyo), saya merupakan anak ke-3 dari 4 bersaudara. Saya memiliki saudara kembar yang sedang berkuliah semester 5 di prodi Oceanografi ITB. Kakak pertama saya yang awalnya kuliah di  Akamigas Balongan, Indramayu,   memutuskan untuk pindah kuliah ke prodi teknik mesin Universitas 17 Agustus Cirebon. Sementara adik saya, si anak perempuan satu-satunya masih bersekolah kelas X di SMA Negeri dekat rumah.
            Alhamdulillah, sekarang saya sedang menempuh prodi Teknik Mesin dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, IPB dan memasuki semester 5. Sekarang saya bertempat tinggal di Asrama reguler Sylvapinus IPB. Ayah saya adalah seorang guru SMP, sementara ibu saya adalah ibu rumah tangga. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, selain dari gaji yang diterima ayah, keluarga juga memiliki usaha sendiri yakni warung bakso dan mie ayam. Biasanya jika ayah sedang tidak ada di rumah, maka ibu dan anak-anaknya lah yang membantu melayani pembeli. Semenjak saya dan saudara kembar saya berkuliah, beban ibu di rumah terlihat semakin berat. Karena di rumah tidak ada pembantu dan karyawan, alasannya supaya tidak harus mengeluarkan honor.
            Selama kami bersekolah hingga sekarang, banyak masalah yang dihadapi keluarga terutama masalah keuangan. Saya kurang memahami pengelolaan keuangan keluarga, tapi yang saya tahu adalah tagihan bank setiap bulannya yang besar membuat orangtua harus memutar otak untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ditambah dengan biaya sekolah. Alhamdulillah selama di SMA, saya dan saudara kembar saya dibantu oleh beberapa guru dan alumni untuk masalah pembiayaan, walaupun tidak sepenuhnya tapi cukup membantu.
Oleh karena itu, saya berusaha mencari beasiswa pendidikan untuk membantu meringankan beban orangtua dalam masalah keuangan, apalagi kakak pertama saya belum mendapat beasiswa kuliah. Selain mencari beasiswa, selama di kampus juga saya berjualan makanan ringan dan mengajar les privat untuk menambah uang saku. Saya sangat mengharapkan bisa memperoleh beasiswa, karena jika tidak, saya bingung menyelesaikan masalah keuangan, terutama biaya UKT. Kampus IPB memang tidak akan mengeluarkan mahasiswanya yang terkendala biaya, namun ada sanksi non aktif bagi yang terlambat menyelesaikan administrasi tersebut. Saya sangat berharap bisa lebih mandiri dan dapat menjadi pemimpin yang berkarakter bagi Indonesia.
Bangsa Indonesia sangat membutuhkan peran pemuda yang memiliki visi membawa Indonesia ke arah yang lebih baik. Tentunya butuh kesadaran dari tiap individu untuk mewujudkan Indonesia yang hebat. Indonesia yang dimimpikan oleh seluruh masyarakat. Oleh karena itu, perlu adanya penggerak dan leader bagi kemajuan bangsa ini.  
            Bangsa Indonesia harus sudah siap untuk bersaing dengan masyarakat ASEAN lainnya. Ini menjadi ajang bagi mahasiswa untuk menunjukkan perannya di masyarakat. Bukan hanya sebagai mahasiswa yang apatis terhadap kondisi lingkungannya.  Kemudian, mahasiswa sebagai pengontrol pemerintah aktif menyuarakan aspirasinya lewat tulisan maupun aksi nyata. Itulah yang saya ingin lakukan dalam memberikan peran aktif bagi masyarakat dan bangsa. Karena bangsa yang hebat bukan hanya yang menghargai jasa pahlawannya. Tetapi bangsa yang hebat adalah bangsa dengan pemuda yang aktif meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan bangsa. Pemuda yang tidak apatis, peduli terhadap orang lain dan mampu menjatuhkan orang-orang di pemerintahan yang menyimpang dari kewenangannya. Walaupun seseorang tidak menjadi pengurus lembaga kemahasiswaan, bukan menjadi alasan untuk tidak menyuarakan aspirasinya. Berusahalah untuk aktif ikut serta menentang kebijakan pemerintah yang merugikan rakyat.
            Setelah lulus nanti, saya berencana kembali ke kampung halaman atau merantau di luar Jawa untuk mengembangkan ilmu yang telah didapatkan di bangku perkuliahan. Masih banyak daerah-daerah yang perlu mendapatkan perhatian pemerintah. Oleh karena itu, harapannya kepada para pemuda untuk bisa mengembangkan potensi keilmuannya di daerah masing-masing. Karena potensi daerah Indonesia ini sangat besar. Amat disayangkan jika setelah lulus nanti, pemuda ikut mencari pekerjaan ke ibukota. Ubahlah mindset kita bahwa para pemuda bukan hanya mencari pekerjaan, tetapi menciptakan pekerjaan bagi kemajuan bangsa Indonesia ini. Karena Indonesia membutuhkan entrepreneur-entrepeneur berjiwa sosial tinggi. Maju terus bangsaku menuju Indonesia sejahtera dan bermartabat.

            Beberapa mimpi saya yang ingin dicapai antara lain berkarier di PT Astra International bagian agroindustri, mengembangkan usaha agroindustri di daerah tempat tinggal saya, dan mampu menjadi pemimpin di Jawa Barat, khususnya Kabupaten Kuningan. Saya ingin berkontribusi bagi Indonesia minimal dari daerah sendiri, sumber daya alam yang melimpah di Kabupaten Kuningan sudah seharusnya dikenal oleh Bangsa Indonesia. Melalui pengembangan mekanisasi di bidang pertanian, umumnya pertanian dalam arti luas. Saya ingin membuktikan bahwa putra daerah Kuningan mampu bersaing dengan orang-orang kota untuk mengembangkan alat ataupun pengolahan hasil pertanian yang produktif dan berkelanjutan. Mulai dari diri sendiri, mulai dari hal kecil untuk melakukan perubahan bagi Indonesia. Dengan aktif di kegiatan keilmiahan, mengikuti lomba inovasi, konferens, kongres, serta aktif dalam kegiatan kemahasiswaan Nasional khususnya di bidang keteknikan pertanian merupakan bentuk kontribusi saat ini sebelum ke arah yang lebih luas. Mimpi terbesar saya bagi Indonesia adalah memajukan teknologi pertanian Indonesia melampaui Jepang, Belanda, dan Amerika Serikat. Petani menjadi sejahtera menuju Indonesia Adidaya. 

Kamis, 17 Oktober 2013

Tugas TIK latihan 3 (html table)


Tabel aslinya :
Mohon maaf atas kekeliruan dari tugas yang saya kerjakan. Dan terima kasih kepada Bapak Iman Nugraha yang telah membimbing dalam menyelesaikan tugas ini.

Kamis, 19 September 2013

Tugas HTML 1





 
    
        <br>      Latihan Pertamaku<br>       
    
      
   

Biodata
Anak Kembar


   

   Nama     :Willy Bambang Sadewo (panggil aja Iyo)

    TTL       :05 Juli 1997

    Alamat   :Jln.Raya Bojong 103 Cilimus

    Sekolah  :SMAN 1 KUNINGAN

    Kelas     :XII IPA 4

    No.HP   :0899633****

    Telepon  :(0232)***321

    Anak ke :2 atau 3 (kembar sih)

    Motto hidup : Jangan katakan kepada Allah, aku punya masalah besar,
tapi katakan kepada masalah bahwa aku punya Allah Yang Maha Besar

    Guru TIK : Bpk. Iman Nugraha,S.Kom

   

   
      

Selasa, 23 Maret 2010

Tawakkal

Tawakkal


Imam al-Ghazali merumuskan definisi tawakkal sebagai berikut, "Tawakkal ialah menyandarkan kepada Allah swt tatkala menghadapi suatu kepentingan, bersandar kepadaNya dalam waktu kesukaran, teguh hati tatkala ditimpa bencana disertai jiwa yang tenang dan hati yang tenteram.

Menurut Abu Zakaria Ansari, tawakkal ialah "keteguhan hati dalam menyerahkan urusan kepada orang lain". Sifat yang demikian itu terjadi sesudah timbul rasa percaya kepada orang yang diserahi urusan tadi. Artinya, ia betul-betul mempunyai sifat amanah (terpercaya) terhadap apa yang diamanatkan dan ia dapat memberikan rasa aman terhadap orang yang memberikan amanat tersebut.

Tawakkal adalah suatu sikap mental seorang yang merupakan hasil dari keyakinannya yang bulat kepada Allah, karena di dalam tauhid ia diajari agar meyakini bahwa hanya Allah yang menciptakan segala-galanya, pengetahuanNya Maha Luas, Dia yang menguasai dan mengatur alam semesta ini. Keyakinan inilah yang mendorongnya untuk menyerahkan segala persoalannya kepada Allah. Hatinya tenang dan tenteram serta tidak ada rasa curiga, karena Allah Maha Tahu dan Maha Bijaksana.

Sementara orang, ada yang salah paham dalam melakukan tawakkal. Dia enggan berusaha dan bekerja, tetapi hanya menunggu. Orang semacam ini mempunyai pemikiran, tidak perlu belajar, jika Allah menghendaki pandai tentu menjadi orang pandai. Atau tidak perlu bekerja, jika Allah menghendaki menjadi orang kaya tentulah kaya, dan seterusnya.

Semua itu sama saja dengan seorang yang sedang lapar perutnya, seklipun ada berbagai makanan, tetapi ia berpikir bahwa jika Allah menghendaki ia kenyang, tentulah kenyang. Jika pendapat ini dpegang teguh pasti akan menyengsarakan diri sendiri.

Menurut ajaran Islam, tawakkal itu adalah tumpuan terakhir dalam suatu usaha atau perjuangan. Jadi arti tawakkal yang sebenarnya -- menurut ajaran Islam -- ialah menyerah diri kepada Allah swt setelah berusaha keras dalam berikhtiar dan bekerja sesuai dengan kemampuan dalam mengikuti sunnah Allah yang Dia tetapkan.

Misalnya, seseorang yang meletakkan sepeda di muka rumah, setelah dikunci rapat, barulah ia bertawakkal. Pada zaman Rasulullah saw ada seorang sahabat yang meninggalkan untanya tanpa diikat lebih dahulu. Ketika ditanya, mengapa tidak diikat, ia menjawab, "Saya telah benar-benar bertawakkal kepada Allah". Nabi saw yang tidak membenarkan jawaban tersebut berkata, "Ikatlah dan setelah itu bolehlah engkau bertawakkal."