Jumat, 22 September 2017

Inspirasi dari Pedalaman



“Mengajar dan Belajar sambil Bermain”
Traveling and Teaching ‘Sibugo’ #8

            Siapa yang tak mau jalan-jalan sambil berbagi, mengajar, dan menginspirasi anak-anak negeri? Saya yakin dalam hati setiap orang pasti ada keinginan untuk membuat orang lain bahagia. Untuk itu, komunitas sosial bernama “1000 guru” yang telah menginspirasi anak-anak negeri berusaha memfasilitasi keinginan mulia tersebut. Selama lima tahun berdiri, banyak sekolah yang telah memperoleh bantuan dari komunitas “1000 guru”. Salah satunya adalah MI Nurussibyan yang berlokasi di pedalaman Kp.Mulyasari Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor.
            Sibugo sebagai komunitas seribu guru Bogor mengajak para penggiat pendidikan untuk berkontribusi dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan di pedalaman Bogor. Dengan berbagai latar belakang profesi, keluarga, dan daerah, 30 volunteer terpilih bersama tim sibugo melakukan perjalanan ke Kp Mulyasari untuk menebar inspirasi. Inspirasi dan motivasi kepada adik-adik untuk tetap semangat dalam meraih impian. Impian yang bukan sekedar harapan dan kata kata tanpa aksi nyata. Sehingga dengan visi dan tujuan yang sama, 30 volunteer berusaha untuk memberikan pengabdian terbaiknya.
            Jumat, 15 September 2017, merupakan hari pertama seluruh volunteer dan tim sibugo berkumpul. Persiapan dan pengecekan barang dilakukan di meeting point, MAN 2 Bogor. Lokasi berkumpul cukup strategis, yakni berada di samping Masjid Raya Bogor dan dekat pintu tol Jagorawi. Kegiatan saling menunggu pun maksimal hingga pukul 21.00 WIB. Saya yang hari itu berangkat dari Dramaga pukul 20.00, memutuskan untuk menggunakan jasa ojek online alias Grab. Sekitar 45 menit perjalanan, akhirnya saya sampai di meeting point. Terlihat sudah banyak orang berkumpul, saya kira pun terlambat datang di sana. Alhamdulillah, ternyata masih dalam tahap persiapan berangkat. Namun, ada satu orang yang masih dalam perjalanan hingga membuat kami menunggu hingga pukul 21.30. Usut diusut, sebut saja AAR, sang Tersangka yang membuat kami menunggu.  
            Rombongan pun berangkat pukul 21.30 menggunakan truk brimob. Truk yang jauh dari kata nyaman itu tak menyurutkan kami untuk saling berkenalan satu sama lain. Dengan berbagai latar belakang daerah, usia, dan profesi, tak membuat kami merasa sungkan. Sekitar dua jam perjalanan, akhirnya kami sampai di jalan kecamatan. Di sana kami berpindah haluan ke mobil bak terbuka. Nuansa berbeda sangat terasa kala dihembus angin malam bersama kawan seperjuangan.
            Sekitar pukul 01.00, kami tiba di jalur tracking. Pengecekan ulang pun dilakukan sebelum perjalanan sesungguhnya dimulai. Tak lupa kami berdoa agar diberikan keselamatan. Kesunyian malam dan berbekal senter, tim pun melakukan tracking menyusuri jalan setapak dan bebatuan. Tim pria saling membantu untuk melindungi wanita (nya). Saya pun tak ketinggalan untuk membantu barang bawaan wanita. Sebut saja Bundo, wanita paling dewasa dalam perjalanan ini karena faktor usia dan sudah berbadan dua. *eh. Tim cowok dibagi ke dalam 3 bagian, yakni depan, tengah, dan belakang. Saya sebagai tim belakang mengawasi para wanita di depan. Bersama AAR, perjalanan malam pun diisi dengan obrolan santai.
            Akhirnya sekitar pukul 3.30, seluruh tim tiba di Kp.Mulyasari. Rasa lelah dan kantuk sangat terasa saat itu, hingga tak tahu siapa yang mengawali dan mengakhiri, seluruh tim tertidur. Adzan subuh pun berkumandang membangunkan kami dengan lantunan yang sangat merdu. Ba’da Subuh, kami bersiap untuk senam pagi dan sarapan. Keceriaan pun mulai terpancar di wajah kami kala bertemu dengan adik-adik di pagi hari. Sabtu pagi pukul 7.00, kegiatan belajar sambil bermain bersama adik adik pun dimulai. Mulai dari mengenal huruf, angka, hingga profesi. Saya bersama tim yaitu, Ka Adel (Mahasiswa Manajemen), Ka Mila (Mojang Bogor), dan Ka Tasya (Pramugari) berusaha menghibur adik-adik. Fokus kami yaitu mengajarkan bahasa Inggris kepada siswa kelas dua.
            Pada pukul 10.00, kegiatan pun beralih ke outdoor. Permainan tradisional yang lebih mengembangkan kemampuan psikomotorik pun kami lakukan. Berlari, bernyanyi, dan tertawa adalah yang kami lakukan di luar kelas hingga pukul 12.00.  Jeda Ishoma hingga pukul 3.00 kami manfaatkan untuk tidur siang melepas lelah. Adzan Ashar membangunkan kami untuk bersiap kembali bertemu adik-adik. Setelah shalat Ashar berjama’ah, acara pun dilanjutkan dengan dongeng dari kaka setiap kelompok. Tanpa diduga, persiapan kelompok belum ada, hingga akhirnya saya diputuskan untuk jadi relawan dongeng. Alhamdulillah berbekal pengalaman bercerita, adik-adik sangat terhibut lewat cerita kisah Nabi Sulaiman yang saya bawakan. Adik-adik sangat antusias dan bersemangat dalam merespon cerita. 
            Kegiatan bersama adik-adik hari itu pun ditutup dengan pemberian plakat dan donasi berupa seragam sekolah, sepatu, dan tas secara simbolis. Adik-adik terlihat sangat senang dan kaka-kaka pun ikut terharu melihat kondisi tersebut. Mereka yang awalnya bersekolah tanpa seragam dan sepatu tampak bahagia. Bahkan, ada seorang anak yang baru pertama kali menggunakan sepatu hingga harus dibantu dalam mengikat tali sepatunya. Di sela proses pemberian donasi tersebut, kami para volunteer mulai berusaha lebih dekat dengan adik-adik dengan berbicara empat mata.
            Hal yang paling membuat kami terharu adalah mayoritas dari mereka tidak tahu harus kemana setelah lulus sekolah dasar. Impian mereka hanya ingin menjadi Ustadz dan Ustadzah. Mayoritas anak-anak seusia mereka memiliki impian sebagai dokter, polisi, tentara, pilot dan profesi lainnya. Keinginan mereka hanyalah bisa bermanfaat dan mengajarkan agama kepada orang lain kelak.
            Seusai pemberian donasi tersebut, acara dilanjutkan dengan permainan outdoor di lapangan. Permainan-permainan tradisional yang membuat kami bernostalgia dan rindu akan masa kecil. Di sini, gadget sama sekali kurang berguna dan tak berfaedah karena sinyal yang tak ada. Bagi kami, permainan dan pemandangan alam yang menyejukkan hati sudah cukup membuat hati ini terhibur. Kegiatan malam pun dilanjut dengan sesi perkenalan dan tukar kado antar volunteer. Keesokan harinya, kegiatan outbond di curug pakuan menantang alam. Menyusuri lembah, sungai, dan bebatuan yang sangat beresiko. Namun, dengan semangat kebersamaan, akhirnya kami merasakan sensasi di Curug Pakuan sekedar untuk berfoto bersama dan melepas penat.
            Akhirnya pada Minggu 17 September pukul 14.00, seluruh tim sibugo dan para volunteer pamit kepada warga sekitar dan adik-adik. Antara bahagia, sedih, dan terharu kami rasakan. Bahagia karena bisa berbagi kebahagiaan bersama adik-adik. Sedih karena pertemuan yang sangat singkat dan berkesan. Dan terharu karena perjuangan adik-adik dalam meraih impian mereka.
            Bersama, bersinergi, menebar inspirasi.
#LakukanYangTerbaik
#BerkahMelimpah
#KobarkanKebaikan
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar