Minggu, 03 Desember 2017

Negeriku, Indonesiaku

Fantasi dan Realitas Menuju Negeri Poseidon
Oleh : Willy Bambang Sadewo

Siapa yang tak mengenal Indonesia? Negeri eksotis yang memiliki lebih dari tuju belas ribu pulau, beragam flora dan fauna, serta kekayaan alam yang melimpah. Indonesia juga dikenal  sebagai negara maritim karena dua pertiga wilayahnya merupakan perairan. Posisi Indonesia yang diapit dua benua dan dua samudra juga menjadi anugrah dalam kegiatan pelayaran. Perairan Indonesia membuat negara-negara lain iri karena keindahan dan kekayaan alam yang dimilikinya. Bahkan, lebih dari sebagian biota laut dunia ada di Indonesia. Namun, melihat keunggulan maritim tersebut, pertanyaannya adalah apakah sudah tercapai kedaulatan maritim Indonesia?    
Hasil gambar untuk negeri maritim
sumber gambar : http://www.batasnegeri.com

Fenomena sekarang ini yang menyebut Indonesia akan menjadi poros maritim dunia menuai pro dan kontra. Banyak kalangan berpendapat bahwa untuk menjadi poros maritim dunia, Indonesia harus mencapai kedaulatan maritim terlebih dahulu. Kedaulatan maritim tersebut meliputi laut teritorial, perairan kepulauan dan perairan pedalaman serta ruang udara di atas laut teritorial, perairan kepulauan, dan perairan pedalaman serta dasar laut dan tanah di bawahnya termasuk sumber kekayaan alam yang terkandung didalamnya. Negeri ini boleh berfantasi menjadi negeri Poseidon yang merajai lautan dan menjadi poros kelautan dunia, tapi tentunya dengan melihat realitas yang ada di Indonesia sekarang ini. Untuk itu, perlu ditekankan kembali budaya maritim Indonesia yang memudar di kalangan pemuda khususnya. Menurut realitas yang ada, nenek moyang kita dahulu adalah pelaut yang hebat. Mereka mampu berlayar dan berdagang hingga ke India mengarungi luasnya samudra. Jadi bukan fantasi semata jika negara ini ingin memiliki kedaulatan maritim, atau bahkan menjadi poros maritim dunia.
Untuk mencapai kedaulatan maritim tersebut, dibutuhkan sarana dan prasarana pendukung yang memadai sesuai rencana pemerintahan sekarang. Diantaranya pembangunan jalan tol laut, pelabuhan laut dalam (deep seaport), logistik, dan industri perkapalan. Tetapi, ada beberapa kalangan yang meragukan rencana pemerintah tersebut dengan alasan sumber daya manusia yang belum memadai. Oleh karena itu, rencana baik tersebut sudah seharusnya didukung oleh semua pihak menjadi realitas, bukan hanya fantasi semata. Nelayan juga perlu dijadikan pilar utama demi kedaulatan pangan melalui pengembangan industri perikanan. Sehingga kedaulatan maritim secara terintegrasi dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Setidaknya dibutuhkan korelasi yang baik antara lima aktor di lapangan dalam usaha mencapai kedaulatan maritim. Yakni pemerintah sebagai pemegang kekuasaan politik, akademisi yang menguasai teknologi, nelayan atau pelaut bergerak langsung di lapangan, TNI sebagai aktor pertahanan keamanan, dan lembaga peradilan sebagai pemegang hukum.
Pemerintah sebagai pemegang kekuasaan tertinggi di republik ini sudah seharusnya melaksanakan kebijakan yang pro rakyat. Kementerian Kelautan dan Perikanan yang bergerak di bidang kemaritiman harus lebih peka terhadap kondisi di lapangan. Sosialisasi kebijakan yang meyeluruh mutlak diperlukan agar tidak terjadi kontroversi seperti kebijakan sebelumnya. Aspirasi dari masyarakat khususnya nelayan juga perlu diterima sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan kebijakan. Selain itu, pemerintah juga perlu melaksanakan diplomasi maritim yang efektif dan efisien. Artinya adalah bahwa hukum laut yang mengatur segala aspek geografis harus ditegaskan. Pemerintah harus berani dalam melakukan hubungan diplomatik khususnya di sektor kelautan, sehingga doktrin-doktrin tidak merugikan negara. Komunikasi dengan pemerintah daerah juga harus ditingkatkan. Jadi, pemerintah yang berperan bukan hanya pusat, tapi pemerintah daerah juga perlu dilibatkan.
Kemudian, untuk mencapai kedaulatan maritim dibutuhkan teknologi yang mendukung. Di sinilah peran akademisi dibutuhkan oleh negara. Pembangunan jalan tol laut yang direncanakan bukan hanya fantasi, tapi perlu direalisasikan sebagai prasarana pendukung. Selain itu, pengembangan sistem deteksi perlu dilakukan melalui satelit penginderaan jauh, karena wilayah laut Indonesia yang sangat luas dan mustahil apabila hanya mengandalkan radar di pelabuhan. Maka dari itu, akademisi dapat berperan dalam pembuatan satelit untuk pengawasan kapal dan pesawat.
Aktor yang tak kalah penting untuk mewujudkan kedaulatan maritim Indonesia adalah nelayan. Kita tahu bahwa sebagian besar nelayan di Indonesia berada di kalangan menengah ke bawah. Komparasi yang sangat berbeda jauh dengan nelayan di luar negeri, khususnya Jepang. Sudah sepatutnya nelayan di negeri ini diberikan fasilitas yang memadai. Selain itu, nelayan perlu menyuarakan pendapatnya jika terdapat kebijakan pemerintah yang otoriter dan kurangnya sosialisasi. Seperti perizinan kapal besar penangkap ikan, larangan transhipment, dan pembatasan sejumlah komoditas yang tidak meningkatkan kesejahteraan kepada pelaku usaha perikanan.
Pertahanan dan keamanan sebagai sektor yang paling berpengaruh terhadap kedaulatan maritim perlu mendapat perhatian lebih dari pemerintah. TNI-AL sebagai pemangku tanggung jawab tersebut harus lebih responsif dan selektif dalam menangani sumber konflik di laut, seperti perompakan, pencurian ikan dan pencemaran laut. Kebijakan kementerian menenggelamkan kapal asing yang melanggar kedaulatan diupayakan memberikan efek jera secara psikis. Walaupun di satu sisi memberikan dampak pada hubungan diplomatik antar negara, namun TNI-AL dan pemerintah harus tetap konsisten pada kebijkannya.
Apabila terjadi pelanggaran kedaulatan di wilayah Indonesia, maka diperlukan lembaga peradilan khusus yang menangani kasus tersebut, seperti Mahkamah Pelayaran. Ilusi hukum yang membelenggu negeri ini jangan sampai menular pada penanganan kasus kemaritiman.

Hasil gambar untuk poros maritim dunia
sumber gambar : https://muhmdaldi.weebly.com

Usaha-usaha dalam rangka mendukung kedaulatan maritim tersebut perlu direalisasikan, jangan hanya sebatas fantasi yang tak berwujud. Bangsa Indonesia yang dikenal sebagai negeri maritim harus memanfaatkan peluang dan anugerah yang telah diberikan oleh Tuhan. Laut harus sebagai pemersatu bangsa, bukan sebagai pemisah. Sehingga diharapkan kesejahteraan rakyat dapat tercapai melalui kedaulatan maritim yang mendukung kedaulatan pangan. Apabila seluruh pihak memiliki visi yang sama dan saling bekerjasama, tentunya Indonesia sebagai poros maritim duniapun bukan hal mustahil lagi, layaknya negeri Poseidon.




Senin, 25 September 2017

REFLEKSI TAHUNAN

ANTARA HARI TANI, HARU PETANI, DAN HATI MAHASISWA
“Fantasi dan Realitas di Negeri Agraris”
Oleh : Willy Bambang Sadewo (Teknik Mesin dan Biosistem IPB)

            “Sekarang, petani adalah pahlawan tanpa tanda jasa”, kalimat yang mungkin terucap oleh kalangan yang memahami problematika pertanian di negeri agraris ini. Setiap 24 September diperingati sebagai Hari Tani Nasional, hari yang mungkin tidak setenar hari-hari besar lainnya. Hari Tani Nasional ditetapkan berdasarkan hari penetapan Undang-Undang No.5 tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (UUPA) oleh Ir. Soekarno. Ditetapkan kelahiran UUPA sebagai hari tani dengan pemikiran bahwa tanpa peletakan dasar keadilan bagi petani untuk menguasai sumber agraria, seperti tanah, air, dan kekayaan alam, mustahil ada kedaulatan petani (Pramono 2010).
Penggerak Kampus Pertanian

            Momentum Hari Tani Nasional bukan sekedar refleksi tahunan, namun lebih dari itu ada tanggungjawab dan peran untuk menghilangkan kalimat “petani miris di negeri agraris”. Presiden pertama RI, Ir. Soekarno juga sangat menyadari akan pentingnya pertanian bagi Bangsa ini. Sehingga beliau pun mengatakan bahwa pertanian adalah soal hidup matinya suatu bangsa. Pemikiran beliau memang sangat realistis mengingat pangan sebagai salah satu kebutuhan pokok. Sehingga,  Ir. Soekarno pula yang meletakkan batu pertama pembangunan kampus Institut Pertanian Bogor (IPB) pada 1 September 1963. Hal tersebut juga menandai peresmian IPB sebagai perguruan tinggi mandiri. Jika saat ini Soekarno masih ada, mungkin beliau akan merasa bangga sekaligus miris melihat kondisi pertanian Indonesia.
            Terdapat amanat reforma agraria pada UUPA yang ditetapkan oleh Soekarno dan tidak dicabut selama lebih kurang 57 tahun. Kelahiran UUPA sebagai semangat melawan “penindasan manusia atas manusia”. Namun, saat ini haru petani nampaknya sangat dirasakan karena semangat itu terhempas oleh kepentingan penguasa dan pemilik modal. Haru petani tidak hanya didasari oleh Nilai Tukar Petani (NTP) saja, masih banyak indikator lain yang lebih praktis di lapangan. Untuk itu, sebagai pemain di lapangan sektor pertanian, sudah seharusnya kebijakan sinergis dan visi seperjuangan antara Pemerintah sebagai pemegang kebijakan, swasta sebagai pemilik modal, akademisi dan lembaga penelitian sebagai inovator, dan petani sebagai garda terdepan untuk mencapai kedaulatan pangan yang hakiki. Lalu, bagaimana dengan peran pemuda dan mahasiswa dalam menyikapi kebijakan nasional, khususnya dalam bidang pertanian?
            Sebagai mahasiswa pertanian (katanya), yang mungkin lebih banyak menghabiskan waktunya di kelas dan belum tahu akar permasalahan di hulu. Saya sangat yakin, dari hati seluruh mahasiswa pertanian menginginkan petani sejahtera dan pertanian Indonesia adidaya. Namun permasalahannya adalah ruang dan mobilitas yang masih terbatas menyebabkan sebagian besar mahasiswa merasa kebingungan. Oleh karena itu, setiap kalangan memiliki perannya masing-masing. Sebagai renungan pribadi pula untuk penulis, saat ini mungkin banyak mahasiswa yang berfikir bagaimana lulus dan cepat bekerja setelah lulus tersebut? Namun, masih sedikit yang berorientasi pada kebermanfaatan orang lain, khususnya petani. Mahasiswa dengan inovasi teknologi sudah banyak didukung, misalnya melalui PKM dan ajang inovasi lainnya, namun masalahnya adalah orientasi mahasiswa dalam mengikuti ajang tersebut. Apakah hanya sekedar gengsi, keingingan, atau kebermanfaatan yang berkelanjutan. Tentunya inovasi mahasiswa yang berkelanjutan perlu didukung oleh pemerintah dan swasta.
Mahasiswa ingin bergerak, pergerakan yang paham kondisi di hulu sampai hilir dan sangat ingin menebar kebermanfaatan lewat inovasi. Namun, kebebasan kami seakan terkekang oleh birokrasi akademis dan tuntutan lainnya. Kampus pertanian memang saat ini bukan hanya membahas masalah pertanian di sektor hulu, permasalahan sampai hilir pun dipelajari. Intinya adalah kembali pada pemangku kebijakan, dalam lingkup nasional maupun kampus, kebijakan yang mendukung dan memihak para penggerak, sudah tentu reformasi agraria lebih berpeluang tercapai. Sehingga, negeri agraris ini bukan sekedar sebutan, tapi fakta yang mengatakan bahwa pertanian presisi dan terintegrasi bukan hal mustahil lagi untuk mencapai kedaulatan pangan.

Hidup Mahasiswa!!! Petani Sejahtera!!! Pertanian Indonesia Berdaulat!!!

#HariTaniNasional
#CurahanHatiMahasiswa

#KobarkanKebaikan   

Jumat, 22 September 2017

Inspirasi dari Pedalaman



“Mengajar dan Belajar sambil Bermain”
Traveling and Teaching ‘Sibugo’ #8

            Siapa yang tak mau jalan-jalan sambil berbagi, mengajar, dan menginspirasi anak-anak negeri? Saya yakin dalam hati setiap orang pasti ada keinginan untuk membuat orang lain bahagia. Untuk itu, komunitas sosial bernama “1000 guru” yang telah menginspirasi anak-anak negeri berusaha memfasilitasi keinginan mulia tersebut. Selama lima tahun berdiri, banyak sekolah yang telah memperoleh bantuan dari komunitas “1000 guru”. Salah satunya adalah MI Nurussibyan yang berlokasi di pedalaman Kp.Mulyasari Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor.
            Sibugo sebagai komunitas seribu guru Bogor mengajak para penggiat pendidikan untuk berkontribusi dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan di pedalaman Bogor. Dengan berbagai latar belakang profesi, keluarga, dan daerah, 30 volunteer terpilih bersama tim sibugo melakukan perjalanan ke Kp Mulyasari untuk menebar inspirasi. Inspirasi dan motivasi kepada adik-adik untuk tetap semangat dalam meraih impian. Impian yang bukan sekedar harapan dan kata kata tanpa aksi nyata. Sehingga dengan visi dan tujuan yang sama, 30 volunteer berusaha untuk memberikan pengabdian terbaiknya.
            Jumat, 15 September 2017, merupakan hari pertama seluruh volunteer dan tim sibugo berkumpul. Persiapan dan pengecekan barang dilakukan di meeting point, MAN 2 Bogor. Lokasi berkumpul cukup strategis, yakni berada di samping Masjid Raya Bogor dan dekat pintu tol Jagorawi. Kegiatan saling menunggu pun maksimal hingga pukul 21.00 WIB. Saya yang hari itu berangkat dari Dramaga pukul 20.00, memutuskan untuk menggunakan jasa ojek online alias Grab. Sekitar 45 menit perjalanan, akhirnya saya sampai di meeting point. Terlihat sudah banyak orang berkumpul, saya kira pun terlambat datang di sana. Alhamdulillah, ternyata masih dalam tahap persiapan berangkat. Namun, ada satu orang yang masih dalam perjalanan hingga membuat kami menunggu hingga pukul 21.30. Usut diusut, sebut saja AAR, sang Tersangka yang membuat kami menunggu.  
            Rombongan pun berangkat pukul 21.30 menggunakan truk brimob. Truk yang jauh dari kata nyaman itu tak menyurutkan kami untuk saling berkenalan satu sama lain. Dengan berbagai latar belakang daerah, usia, dan profesi, tak membuat kami merasa sungkan. Sekitar dua jam perjalanan, akhirnya kami sampai di jalan kecamatan. Di sana kami berpindah haluan ke mobil bak terbuka. Nuansa berbeda sangat terasa kala dihembus angin malam bersama kawan seperjuangan.
            Sekitar pukul 01.00, kami tiba di jalur tracking. Pengecekan ulang pun dilakukan sebelum perjalanan sesungguhnya dimulai. Tak lupa kami berdoa agar diberikan keselamatan. Kesunyian malam dan berbekal senter, tim pun melakukan tracking menyusuri jalan setapak dan bebatuan. Tim pria saling membantu untuk melindungi wanita (nya). Saya pun tak ketinggalan untuk membantu barang bawaan wanita. Sebut saja Bundo, wanita paling dewasa dalam perjalanan ini karena faktor usia dan sudah berbadan dua. *eh. Tim cowok dibagi ke dalam 3 bagian, yakni depan, tengah, dan belakang. Saya sebagai tim belakang mengawasi para wanita di depan. Bersama AAR, perjalanan malam pun diisi dengan obrolan santai.
            Akhirnya sekitar pukul 3.30, seluruh tim tiba di Kp.Mulyasari. Rasa lelah dan kantuk sangat terasa saat itu, hingga tak tahu siapa yang mengawali dan mengakhiri, seluruh tim tertidur. Adzan subuh pun berkumandang membangunkan kami dengan lantunan yang sangat merdu. Ba’da Subuh, kami bersiap untuk senam pagi dan sarapan. Keceriaan pun mulai terpancar di wajah kami kala bertemu dengan adik-adik di pagi hari. Sabtu pagi pukul 7.00, kegiatan belajar sambil bermain bersama adik adik pun dimulai. Mulai dari mengenal huruf, angka, hingga profesi. Saya bersama tim yaitu, Ka Adel (Mahasiswa Manajemen), Ka Mila (Mojang Bogor), dan Ka Tasya (Pramugari) berusaha menghibur adik-adik. Fokus kami yaitu mengajarkan bahasa Inggris kepada siswa kelas dua.
            Pada pukul 10.00, kegiatan pun beralih ke outdoor. Permainan tradisional yang lebih mengembangkan kemampuan psikomotorik pun kami lakukan. Berlari, bernyanyi, dan tertawa adalah yang kami lakukan di luar kelas hingga pukul 12.00.  Jeda Ishoma hingga pukul 3.00 kami manfaatkan untuk tidur siang melepas lelah. Adzan Ashar membangunkan kami untuk bersiap kembali bertemu adik-adik. Setelah shalat Ashar berjama’ah, acara pun dilanjutkan dengan dongeng dari kaka setiap kelompok. Tanpa diduga, persiapan kelompok belum ada, hingga akhirnya saya diputuskan untuk jadi relawan dongeng. Alhamdulillah berbekal pengalaman bercerita, adik-adik sangat terhibut lewat cerita kisah Nabi Sulaiman yang saya bawakan. Adik-adik sangat antusias dan bersemangat dalam merespon cerita. 
            Kegiatan bersama adik-adik hari itu pun ditutup dengan pemberian plakat dan donasi berupa seragam sekolah, sepatu, dan tas secara simbolis. Adik-adik terlihat sangat senang dan kaka-kaka pun ikut terharu melihat kondisi tersebut. Mereka yang awalnya bersekolah tanpa seragam dan sepatu tampak bahagia. Bahkan, ada seorang anak yang baru pertama kali menggunakan sepatu hingga harus dibantu dalam mengikat tali sepatunya. Di sela proses pemberian donasi tersebut, kami para volunteer mulai berusaha lebih dekat dengan adik-adik dengan berbicara empat mata.
            Hal yang paling membuat kami terharu adalah mayoritas dari mereka tidak tahu harus kemana setelah lulus sekolah dasar. Impian mereka hanya ingin menjadi Ustadz dan Ustadzah. Mayoritas anak-anak seusia mereka memiliki impian sebagai dokter, polisi, tentara, pilot dan profesi lainnya. Keinginan mereka hanyalah bisa bermanfaat dan mengajarkan agama kepada orang lain kelak.
            Seusai pemberian donasi tersebut, acara dilanjutkan dengan permainan outdoor di lapangan. Permainan-permainan tradisional yang membuat kami bernostalgia dan rindu akan masa kecil. Di sini, gadget sama sekali kurang berguna dan tak berfaedah karena sinyal yang tak ada. Bagi kami, permainan dan pemandangan alam yang menyejukkan hati sudah cukup membuat hati ini terhibur. Kegiatan malam pun dilanjut dengan sesi perkenalan dan tukar kado antar volunteer. Keesokan harinya, kegiatan outbond di curug pakuan menantang alam. Menyusuri lembah, sungai, dan bebatuan yang sangat beresiko. Namun, dengan semangat kebersamaan, akhirnya kami merasakan sensasi di Curug Pakuan sekedar untuk berfoto bersama dan melepas penat.
            Akhirnya pada Minggu 17 September pukul 14.00, seluruh tim sibugo dan para volunteer pamit kepada warga sekitar dan adik-adik. Antara bahagia, sedih, dan terharu kami rasakan. Bahagia karena bisa berbagi kebahagiaan bersama adik-adik. Sedih karena pertemuan yang sangat singkat dan berkesan. Dan terharu karena perjuangan adik-adik dalam meraih impian mereka.
            Bersama, bersinergi, menebar inspirasi.
#LakukanYangTerbaik
#BerkahMelimpah
#KobarkanKebaikan