“Mengajar dan Belajar sambil Bermain”
Traveling
and Teaching ‘Sibugo’ #8
Siapa
yang tak mau jalan-jalan sambil berbagi, mengajar, dan menginspirasi anak-anak
negeri? Saya yakin dalam hati setiap orang pasti ada keinginan untuk membuat
orang lain bahagia. Untuk itu, komunitas sosial bernama “1000 guru” yang telah
menginspirasi anak-anak negeri berusaha memfasilitasi keinginan mulia tersebut.
Selama lima tahun berdiri, banyak sekolah yang telah memperoleh bantuan dari
komunitas “1000 guru”. Salah satunya adalah MI Nurussibyan yang berlokasi di
pedalaman Kp.Mulyasari Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor.
Sibugo
sebagai komunitas seribu guru Bogor mengajak para penggiat pendidikan untuk
berkontribusi dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan di pedalaman Bogor.
Dengan berbagai latar belakang profesi, keluarga, dan daerah, 30 volunteer terpilih bersama tim sibugo
melakukan perjalanan ke Kp Mulyasari untuk menebar inspirasi. Inspirasi dan
motivasi kepada adik-adik untuk tetap semangat dalam meraih impian. Impian yang
bukan sekedar harapan dan kata kata tanpa aksi nyata. Sehingga dengan visi dan
tujuan yang sama, 30 volunteer berusaha
untuk memberikan pengabdian terbaiknya.
Jumat,
15 September 2017, merupakan hari pertama seluruh volunteer dan tim sibugo berkumpul. Persiapan dan pengecekan barang
dilakukan di meeting point, MAN 2
Bogor. Lokasi berkumpul cukup strategis, yakni berada di samping Masjid Raya
Bogor dan dekat pintu tol Jagorawi. Kegiatan saling menunggu pun maksimal
hingga pukul 21.00 WIB. Saya yang hari itu berangkat dari Dramaga pukul 20.00,
memutuskan untuk menggunakan jasa ojek online alias Grab. Sekitar 45 menit
perjalanan, akhirnya saya sampai di meeting
point. Terlihat sudah banyak orang berkumpul, saya kira pun terlambat
datang di sana. Alhamdulillah, ternyata masih dalam tahap persiapan berangkat.
Namun, ada satu orang yang masih dalam perjalanan hingga membuat kami menunggu
hingga pukul 21.30. Usut diusut, sebut saja AAR, sang Tersangka yang membuat
kami menunggu.
Rombongan
pun berangkat pukul 21.30 menggunakan truk brimob. Truk yang jauh dari kata
nyaman itu tak menyurutkan kami untuk saling berkenalan satu sama lain. Dengan
berbagai latar belakang daerah, usia, dan profesi, tak membuat kami merasa
sungkan. Sekitar dua jam perjalanan, akhirnya kami sampai di jalan kecamatan.
Di sana kami berpindah haluan ke mobil bak terbuka. Nuansa berbeda sangat
terasa kala dihembus angin malam bersama kawan seperjuangan.
Sekitar
pukul 01.00, kami tiba di jalur tracking. Pengecekan ulang pun dilakukan
sebelum perjalanan sesungguhnya dimulai. Tak lupa kami berdoa agar diberikan
keselamatan. Kesunyian malam dan berbekal senter, tim pun melakukan tracking menyusuri jalan setapak dan
bebatuan. Tim pria saling membantu untuk melindungi wanita (nya). Saya pun tak
ketinggalan untuk membantu barang bawaan wanita. Sebut saja Bundo, wanita
paling dewasa dalam perjalanan ini karena faktor usia dan sudah berbadan dua. *eh. Tim cowok dibagi ke dalam 3 bagian,
yakni depan, tengah, dan belakang. Saya sebagai tim belakang mengawasi para
wanita di depan. Bersama AAR, perjalanan malam pun diisi dengan obrolan
santai.
Akhirnya
sekitar pukul 3.30, seluruh tim tiba di Kp.Mulyasari. Rasa lelah dan kantuk sangat
terasa saat itu, hingga tak tahu siapa yang mengawali dan mengakhiri, seluruh
tim tertidur. Adzan subuh pun berkumandang membangunkan kami dengan lantunan
yang sangat merdu. Ba’da Subuh, kami bersiap untuk senam pagi dan sarapan.
Keceriaan pun mulai terpancar di wajah kami kala bertemu dengan adik-adik di
pagi hari. Sabtu pagi pukul 7.00, kegiatan belajar sambil bermain bersama adik
adik pun dimulai. Mulai dari mengenal huruf, angka, hingga profesi. Saya
bersama tim yaitu, Ka Adel (Mahasiswa Manajemen), Ka Mila (Mojang Bogor), dan
Ka Tasya (Pramugari) berusaha menghibur adik-adik. Fokus kami yaitu mengajarkan
bahasa Inggris kepada siswa kelas dua.
Pada
pukul 10.00, kegiatan pun beralih ke outdoor. Permainan tradisional yang lebih
mengembangkan kemampuan psikomotorik pun kami lakukan. Berlari, bernyanyi, dan
tertawa adalah yang kami lakukan di luar kelas hingga pukul 12.00. Jeda Ishoma hingga pukul 3.00 kami manfaatkan
untuk tidur siang melepas lelah. Adzan Ashar membangunkan kami untuk bersiap
kembali bertemu adik-adik. Setelah shalat Ashar berjama’ah, acara pun
dilanjutkan dengan dongeng dari kaka setiap kelompok. Tanpa diduga, persiapan
kelompok belum ada, hingga akhirnya saya diputuskan untuk jadi relawan dongeng.
Alhamdulillah berbekal pengalaman bercerita, adik-adik sangat terhibut lewat
cerita kisah Nabi Sulaiman yang saya bawakan. Adik-adik sangat antusias dan
bersemangat dalam merespon cerita.
Kegiatan
bersama adik-adik hari itu pun ditutup dengan pemberian plakat dan donasi berupa
seragam sekolah, sepatu, dan tas secara simbolis. Adik-adik terlihat sangat
senang dan kaka-kaka pun ikut terharu melihat kondisi tersebut. Mereka yang
awalnya bersekolah tanpa seragam dan sepatu tampak bahagia. Bahkan, ada seorang
anak yang baru pertama kali menggunakan sepatu hingga harus dibantu dalam
mengikat tali sepatunya. Di sela proses pemberian donasi tersebut, kami para
volunteer mulai berusaha lebih dekat dengan adik-adik dengan berbicara empat mata.
Hal yang
paling membuat kami terharu adalah mayoritas dari mereka tidak tahu harus
kemana setelah lulus sekolah dasar. Impian mereka hanya ingin menjadi Ustadz
dan Ustadzah. Mayoritas anak-anak seusia mereka memiliki impian sebagai dokter,
polisi, tentara, pilot dan profesi lainnya. Keinginan mereka hanyalah bisa
bermanfaat dan mengajarkan agama kepada orang lain kelak.
Seusai pemberian
donasi tersebut, acara dilanjutkan dengan permainan outdoor di lapangan.
Permainan-permainan tradisional yang membuat kami bernostalgia dan rindu akan
masa kecil. Di sini, gadget sama
sekali kurang berguna dan tak berfaedah karena sinyal yang tak ada. Bagi kami,
permainan dan pemandangan alam yang menyejukkan hati sudah cukup membuat hati
ini terhibur. Kegiatan malam pun dilanjut dengan sesi perkenalan dan tukar kado
antar volunteer. Keesokan harinya,
kegiatan outbond di curug pakuan menantang alam. Menyusuri lembah, sungai, dan
bebatuan yang sangat beresiko. Namun, dengan semangat kebersamaan, akhirnya
kami merasakan sensasi di Curug Pakuan sekedar untuk berfoto bersama dan
melepas penat.
Akhirnya
pada Minggu 17 September pukul 14.00, seluruh tim sibugo dan para volunteer pamit kepada warga sekitar dan
adik-adik. Antara bahagia, sedih, dan terharu kami rasakan. Bahagia karena bisa
berbagi kebahagiaan bersama adik-adik. Sedih karena pertemuan yang sangat
singkat dan berkesan. Dan terharu karena perjuangan adik-adik dalam meraih
impian mereka.
Bersama,
bersinergi, menebar inspirasi.
#LakukanYangTerbaik
#BerkahMelimpah
#KobarkanKebaikan